Tuesday, May 27, 2014

Musik Tidak Punah

     Bunyi alur musik dari dalam rumah tua di tengah hutan terdengar dengan jelas. Cuaca yang sempurna. Hujan deras di malam hari. Angin berdesir dengan semangat, meniup daun-daun yang rapuh. Hujan membanjiri halaman di depan rumah. Lampu rumah pun terlihat bersinar terang-benderang dari keajuhan.
    
    Musik itu pun mengalir dengan seru. Tetapi bukan sekedar satu instumental saja. Satu orchestra penuh. Biola, biola alto, cello, bass, grand piano, dan insturmen lain-lain yang kalian semua tahu.
   
     Satu hal yang menyeramkan. Tidak ada penghuni di rumah ini. Bisa kalian tebak? Hantu? Bukan. Musik itulah yang memainkannya sendiri. Alat-alat musik ini menjadi hidup ke kehidupan nyata.. aneh.
     
    Mereka memiliki jiwa yang abadi, kekal, dan baka. Mereka tidak mengenal kata “mati” dalam hidup mereka masing-masing. Mereka tidak lapar, maupun haus. Namun masing-masing dari mereka memiliki perasaan. Lewat perasaan itu lah, mereka dapat membuka pintu gerbang menuju jalan yang bernama “Imaginasi”.
      
      Tidak peduli pagi, siang, malam, maupun subuh, mereka tetap akan memainkan musiknya. Solo, duo, trio, quartet, atau ensembel, mereka tetap menjalankan hidup mereka sebagai musik.
    
      Sinar fajar di pagi hari menyemangati mereka untuk berlatih, mengasah kemampuan mereka masing-masing. Suara siulan burung di pagi hari ikut terjun ke dalam danau lagu. Sorotan surya yang terik pada siang hari menantang mereka untuk tidak berhenti, karena masih ada sore dan malam. Terbenamnya matahri di sore hari mengantar mereka ke tumpukan bunga yang bertebaran di atas rumput hijau yang nyaman. Membuat mereka bermain lebih halus daripada pagi dan siang. Terang rembulan menyorot rumah indah itu dengan lembut. Pada malam yang indah, ditemani oleh ratusan bintang-bintang yang setia berbinar-binar pada langit jernih di malam hari. Mengantarkan makhluk hidup di sekitar mereka untuk beristirahat. Memainkan lagu pengantar tidur dengan seksama, merdu, dan indah.
     
      Cuaca pada hari itu sangat sangat ekstrem. Terik. Para instrumen pun tidak berhenti memainkan musik mereka. Bukan main, sorotan matahari siang bolong sangat panas. Insting. Makhluk yang di sekitarnya cepat-cepat melarikan dirim dari hutan yang panas itu. Berusaha menyelamatkan diri dari malapetaka yang akan terjadi.  Rumput mulai terbakar. Api rumput itu menjalar, menaiki pohon, membakar daun-daun yang malang. Batang pohon itu tidak sanggup menahan api merah yang menggerogotinya. Pohon tak berdaya itu pun runtuh. Mengakibatkan api melesat ke mana-mana. Termasuk ke rumah tua itu. Para alat musik tidak sadar bahwa kehancuran sudah berada di depan mata mereka. Kandil megah itu menimpa grand piano. Bunyi mengerikan itu menyahut keluar dari piano itu, seperti kata-kata terakhrinya. Api itu menybar ke seluruh bagian rumah. Semua alat musik itu menangis, menyahut-nyahut, meminta pertolongan. Mereka tak berdaya. Api itu menghabisi mereka dalam sekejap. Beberapa jam kemudian, rumah tua itu sudah tidak ada. Hangus menjadi abu.
       
        Tetapi, itu tidak mengartikan bahwa musik telah menghilang, meninggalkan dunia selamanya. Musik berada di mana pun kalian berada. Bunyi ombak di pinggir pantai adalah musik. Suara detik jam adalah musik. Klakson kendaraan, sirene, suara langkah, bunyi mesin pendingin, maupun tangisan orang. Sebenarnya, masih ada banyak lagi. Sekali lagi, musik ada di sekitarmu. Yang perlu kalian lakukan adalah mendengarkan mereka dengan seksama, mempersilahkan mereka masuk ke dalam kepala kalian,  dan menikmati mereka.

The End



Wednesday, September 4, 2013

Red Riding Hood

     Red Riding Hood sedang menyiapkan barangnya untuk dia bawa ke rumah neneknya. Ia membawa beragam macam makanan-makanan yang lezat.

“Kamu tidak boleh berbicara dengan orang asing ya.” Minta ibu Riding Hood.

“ Baiklah bu!” Jawab Riding Hood.

“Hati-hati di jalan!” Ibunya melambaikan tangannya ke anak itu. Red Riding Hood berjalan dengan riang gembira di tengah hutan yang sangat hijau itu. Sewaktu dia di sedang di tengah perjalanan, ada Serigala di situ.

“Halo dik, kamu mau pergi ke mana?” tanya serigala itu.

“Oh, aku mau pergi ke rumah nenekku!”

“Rumah yang atapnya warna merah ya?”

“Iya.” Red Riding Hood pun melanjutkan perjalanannya. Si Serigala jauh lebih kenal hutan ini daripada Riding Hood. Ia tau jalan pintas untuk menuju ke rumah nenek.
    
      Tok! Tok! Tok! Red Riding Hood mengetuk pintu rumah neneknya.

“Nenek! Ini aku, Red Riding Hood. Bolehkah aku masuk?”

“Masuklah.” Nenek menjawab dengan suara yang aneh. Riding Hood merengut kebingungan. Sewaktu Riding Hood masuk, ia melihat neneknya yang sedang sakit itu terbaring di atas tempat tidurnya. Tapi, keadaan nenek menjadi lebih buruk daripada sebelumnya!

“Nenek! Kenapa nenek mempunyai bulu? Dan mengapa memiliki kuping yang panjang dan memiliki cakar?”

“Aku sendiri juga tidak tahu kenapa.” Jawab si Serigala. Dia sudah hilang kesabaran untuk anak ini. Dia langsung bangun dari tempat tidurnya dan langsung menggeram sambil mengelilingi Riding Hood.

“Kau adalah serigala yang aku temui di jalan tadi! Apa yang telah kau perbuat kepada nenekku?!”

“Hehehe.. kau tahu? Aku akan membuat hal yang sama kepadamu seperti apa yang kubuat ke nenek tua yang bodoh itu!” Riding Hood pun sangat terkejut. Ia langsung berteriak sekeras mungkin untuk mencari pertolongan.

“TOLONG AKU!!!! ADA SERIGALA DI SINI YANG MAU MELAHAPKU!!!!” Tak lama kemudian.........GUBRRAAAK!!! Ada seorang pemburu menjebloskan kakinya ke pintu. DOR! DOR! DOR! Pemburu itu berusaha menembak si serigala tetapi ia lolos.

“Kau tidak apa-apa nak?” Tanya si Pemburu itu.

“Iya, tetapi aku tidak bisa menemukan nenekku.”

“Baiklah, mari kita cari.”

“Tetapi, kata si serigala, nenek telah ia makan!”

“Ahh itu tidak mungkin.” Mereka pun mencari demgan sangat detil. Sewaktu Riding Hood membuka lemari... BRUK!! Badan nenek tergeletak di atas badan Riding Hood.

“Nenek bangun Nek!!” Riding Hood menggoyangkan badan Neneknya.

“Ooh! Ada apa?! Apa yang terjadi?!” Nenek bangun dengan kaget.

“Ahh! Syukurlah nenek bangun! Nenek duduk dulu. Nanti akan kuceritakan semuanya.”

TAMAT

- Diceritakan kembali oleh aku

Monday, August 19, 2013

Beragam Jenis Teman

         Hari ini adalah hari yang membuat dadaku terasa sakit. Aku berusaha menahan air ini keluar dari mataku. Tetapi, aku tak tahan menahannya. Air itu pun mengalir keluar dari mataku seperti sungai yang sengat deras arusnya. Aku telah membuat kenang-kenangan yang indah bersama teman-temanku selama lima tahun. Memberikan salah satu barang-barangku untuk mereka supaya mereka tetap akan mengingatku meskipun tidak akan bisa melihat sesama, dengan kata lain, tidak bisa bertemu.

“Selamat tinggal, Lena. Kami akan sangat merindukanmu,” ujar Yona.

“Belajarlah yang giat, Lena.” Pesan Jonathan sambil menarik ingusnya.

 “Rajin-rajinlah kunjungi kami di sini, ya..” minta Samuel kepadaku. Aku pun mengagguk sambil tersenyum.

“Ok, akan aku usahakan setiap libur aku akan ke Indonesia.. Yap, aku rasa perjumpaan kita sampai di sini saja. Pesawatku sudah mau datang. Selamat tinggal Yona, Yoshua, Jonathan, Samuel.. Aku akan merindukan kalian semua!”

 “Selamat tingal Lena!!!!” ucap mereka semua sambil melambaikan tangan mereka.

 


        

             Krriiingg!!! Bell sekolah berdering selama tiga detik, menandakan bahwa sekolah sudah selesai, tepat jam setengah tiga sore. Anak-anak kelas 8-A langsung melesat keluar seperti mobil-mobil F1 berlomba-lomba ke tengah lapangan sekolah. Benar, ini kelasku, kelas 8-A. Terdiri dari sepuluh anak. Lima laki-laki dan lima perempuan, sangat imbang, ya. Tapi bagaimanapun juga, aku sangat bangga berada di kelas ini. Meskipun hanya tiga anak yang pintar matematika, fisika, dan ilmu pasti lainnya, aku tetap suka dengan kelas ini. Jujur saja, aku berada di antara tujuh anak ini. Tetapi itu bukan artinya kita bodoh. Kita memiliki bakat yang berbeda-beda dan unik-unik.  Tidak semua anak-anak berlomba-lomba ke tengah lapangan sekolah. Tersisa tiga anak di dalam kelas. Mereka berjalan keluar dari kelas dengan langkah-langkah yang sangat teratur, dangan kata lain “cool”. Mereka terkenal dengan si “Tiga Bussiness Men”. Mereka bertiga adalah Yoshua, Jonathan, dan Samuel. Sampai mereka bertiga sampai ke tengah lapangan, ketua kelas kami, Jessica, berjalan ke depan, menghadap ke kerumunan anak kelas 8-A.

“Bagaimana, pelajaran Matematika hari ini?” Tanya Jessica kepada semua anak di situ.
William mengangkat tangan dan menjawab, 

“Gillaaaa tambah susah—“

“Menantang.” Sela Samuel sambil membenarkan posisi kacamatanya.

“Oke terimakasih untuk komentar itu, Samuel.” Jawab Jessica.

“Sama-sama.”

“Komentar lain? Atau apakah ada pertanyaan lagi?” tanya Jessica. Ranya melambaikan tangannya setinggi-tinggi mungkin. “Ya, Yona?”

“Bolehkah kita membuat kerja kelompok?”

“Tentu saja. Tadi Bu Dewi sudah mengizinkan kita untuk bekerja kelompok.”

“Kalau begitu...Yoshua! Bolehkah beberapa dari kami bermain ke rumahmu untuk kerja kelompopk?”

“Tentu. Tapi, nanti akan aku pastikan dulu boleh atau tidak.” Yoshua jawab dengan suara berkharisamanya itu.

“Oke! Kalian semua boleh bubar.” Sorak Jessica. Dia akan memberi kita aba-aba untuk mengatakan goodbye-wordsnya kelas ini.

“ 'Tu, 'wa, 'ga!”

“Terimakasih untuk semua orang yang ada di sini yang sudah berbuat baik untuk kita semua dan terimakasih untuk perhatiannya!” Itulah goodbye-wordsnya kami. 

        Setelah bubar, Yoshua memilih Yona, Aku, dan Wiliam untuk kerja kelompok ke rumahnya. Sewaktu Yoshua sudah dijemput, iya menanyakan ke ibunya yang ada dalam mobil. Aku hanya bisa melihat dari kejauhan. Ibunya membuka kaca mobil dan Yoshua berbicara. ‘Tak lama kemudian, Yoshua menghadap ke kita dan mengaggukkan kepalanya sambil tersenyum. Itu adalah isyarat kalau kita boleh berkerja kelompok ke rumahnya.

“Oke!! Trims Yoshua!” Aku dan teman-temanku melambai ke Yoshua. Dia pun masuk ke mobilnya dan mobil itu meluncur dengan mulus pulang.
         
          Keesokan harinya, di rumah Yoshua, rencana berjalan dengan lancar. Tugas kami selesai karena bantuan Yoshua. Waktu kita sedang istirahat, Samuel dan Jonathan datang ke sini juga, mengantarkan buku Yoshua yang tertinggal di laci sekolah. Kita bercakap-cakap dengan gembira sambil menikmati Jus Tomat buatan Yoshua sendiri. 
"Emm.. Yoshua, karena kebetulan di rumahmu ini ada Grand Piano, bolehkah aku memainkannya?" izin William ke Yoshua.

 "Tentu." Jawabnya. 

"Ahhh terimakasih! Terimakasih Yos!" William pun membuka tutup piano itu dengan riang gembira. Ia menaruh jari-jarinya di atas tuts-tuts piano. Tapi, dia termenung hening.

 "Aku mau main apa ya? Tadi aku dah pikirin tapi kok ilang  ya? aduhh.." William lupa sambil menggaruk-garuk kepalanya.

 "Jelas-jelas kamu lupa Will, kamu kan pelupa." ujar Yona.  

"OOHH YA! Aku baru ingat!" Sahut William. Samuel langsung keselak saat meminum jus tomat itu karena kaget oleh ulah William berteriak kegirangan karena beru mengingat lagu apa yang akan ia mainkan.

"William, tolong untuk keep calm." Ceramah Samuel kepada William. 

"Eh maaf, maaf." William meminta maaf ke semua orang.

 "Apology accepted." kata Jonathan. O ya, aku lupa memberi tahu kalian bahwa Jonathan adalah anak blasteran. Inggris-Indo, bukan Amerika-Indo. Mulailah William memainkan Perpetuum mobile ciptaan C.M.v.Weber. Kalian tahu tidak? Panjang lagu itu adalah 13 (tiga belas) halaman! Hal yang aku sangat terkesan dari William itu bahwa ia sudah hafal lagu itu, tanpa melihat! William itu genius di bidang musik. Cita-citanya itu untuk bisa menguasai semua alat musik dan menjadi musisi proffesional.
    
      Aku melihat sekelilingku. Yona, dia sedang lipat-melipat kertas orgami favoritnya. Ia telah membuat miniatur-miniatur yang banyak. Dari burung sampai robot-robotan. Yoshua, ia sedang belajar di ruang tamu dengan Jonathan dan Samuel. Mereka menonton video orang sedang mengkalkulasi soal Fisika. Mereka mendengar dan memperhatikan secara seksama. Jonathan mencatat cara-cara itu juga di buku catatannya. Setelah mereka selesai menonton, mereka kembali ke "bisnis" mereka sendiri. Seperti biasa, Jonathan sedang ketiduran di sofa. Samuel, sedang menggambar di Ipad-nya. Yoshua, dia sedang membuatkan kita cemilan untuk nanti sore.William, dia masih bermain piano. Rrrriiinnngg!!! Hape-ku berdering. "Halo ma, ada apa?"

"Tugasmu sudah selesai belum?"

"Sudah."

"Kalau begitu, kamu pulang sekarang, ya. Mama dan Papa mau bicara sama kamu nanti di rumah."

"Oke sip." 

"Mau pulang ya Len?" tanya Yona kepadaku.

"Iya."

"Aku juga sekalian jalan bareng pulang sama kamu ya?"

"Yuk. Ysohua, sayang sekali aku harus pulang sekarang. Aku padahal penasaran sama cemilan yang kau buat."

"Oh, tidak apa-apa, Len. Besok aku bawain kamu sebagian cemilan-cemilan ini."

"Trims Yos."

"Semuanya, kami pulang dulu ya." Pamit Yona kepada William, Yoshua, Samuel, dan Jonathan.
  
      Sewaktu aku sampai di rumah, mama dan papa bicara kepadaku.
"Nak, papa diminta perusahaan untuk pindah tempat kerja." Kata ayah.

"Oke." ujarku.

"Bukan begitu, nak. papa akan pindah kerja ke U.S."

"EH?! Jauh banget!"

"Papa akan menjadi manajer di sana."

"Papa sudah merencanakan kapan kita akan pindah." Kata papa.

"Kapan?"

"Dua minggu lagi." Aku sangat terkejut akan kenyataan itu. Tetapi, aku harus melakukan ini, demi kebaikkan ayahku.

    
        Krriiingg!!! Bell sekolah berdering selama tiga detik. Seperti biasa, semua anak melesat keluar kelas kecuali si “Tiga Bussiness Men” dan.... aku. Sewaktu aku sampai di lapangan, Jessica berbicara,

“Panggilan untuk Lena untuk maju ke depan!” Aku pun maju.

“Lena, ada apa denganmu hari ini? Kenapa kamu sangat muram hari ini?” Tanya Jessica. Aku menghela nafasku dan aku memandang semua muka di depanku.

“Aku akan pindah ke U.S...”

“AAAAPPAAAAA???!!!” Semua mulut anak-anak terbuka lebar. Kecuali mereka bertiga. Hanya ekspresi mereka yang berubah. Mata mereka bertiga membelalak. Dan kali ini Samuel melepas kacamatanya.

“K-k-k-a-a-p-p-a-a-n?” Tanya Yona tersendat-sendat.

“ Dua minggu lagi..”

“Yaah.. Dua minggu itu sebentar lho. Sekarang waktu berjalan dengan cepat.” Kesal William.

“Kamu pindah karena untuk kebaikan ayahmu ya?” tanya Jessica kepadaku. Aku hanya mengagguk.

“Baiklah, dua minggu lagi kita semua berkumpul di Bandara! Untuk menyampaikan selamat tinggal untuk teman tercinta kita, Lena.” Umum Jessica kepada semua anak di situ. 

"Kalau ada yang tidak bisa datang, tolong angkat tangan kalian!" suruh Jessica kepada semua anak di situ. Lima anak pun mengangkat tangan mereka.

"Berarti hanya empat anak yang bisa datang—“
"Eh?! empat anak? Jessica tidak bisa datang?" tanyaku keheranan.

"Iya. Aku ada les Kendo."

"Wah.. Sayang sekali ya Jes."

"Oh iya, Lena! Ini cemilan yang aku bilang kemarin. Aku membuat Pofertjes. Semuga kau menyukainya." Yoshua memberi tempat makan itu ke aku.

"Trims banyak Yos."
        
      Hari “H” itu pun tiba. Di bandara telah dipenuhi oleh sungai air mata dariku dan teman-temanku. Itu adalah situasi yang sangat sedih bagiku. Tapi, begitulah, aku sudah pindah. Tapi, artinya aku pindah bukan artinya persahabatanku dengan mereka putus. Justru karena hal ini, aku bisa menjadi lebih dekat dengan teman-temanku. Dan tahu tidak? Aku sudah tahu apa film kesukaan Samuel! Yap benar, film kesukaannya itu adalah Barbie!

Tamat

Thursday, July 25, 2013

Resensi Film "The Secret Garden"

         


       Film ini sudah sangat lama. Sejak tahun 1993. Aku pun belum lahir di tahun itu. Aku sangat menyukai film ini. Bagian terfavoritku adalah sewaktu Mary dan Dickon pertamakalinya bertemu dan Mary menunjukan taman itu.
               
 Waktu itu, Mary sedang dalam perjalanannya ke taman rahasia yang dia temukan. Sewaktu diperjalanannya, ada burung gagak mendatangi dia dengan panik. Mary pun juga menjadi takut. Dickon pun langsung datang.
Pertemuan Dickon dan Mary untuk pertamakalinya

“Soot!” panggil Dickon ke burung gagak itu. “ Dia tidak mengenal kau. Kamu memakutinya.”

 “Aku menakutinya?” Mary tanya.

“Ayolah, dia tidak akan menyakitimu.” Ajak Dickon ke Mary untuk mengelus burung itu

“Dia akan menggigitku.”

“Dia tidak akan.”

“Tetapi dia jorok dan kotor.”

“Tidak, dia lembut. Pasti kau akan menyukainya.” Mary pun mencoba untuk memegang burung itu. Tetapi. Saat ia elus, burung itu takut dan bersuara.

“Sudah. Aku sudah melakukannya!” ujar Mary. Dickon pun tersenyum. Dia mengambil tangan Mary, melepaskan sarung tangannya, dan menankaukan tangan Mary ke burung itu secra pelan-pelan. Pertama, burung itu agak takut. Tetapi, lama-lama burung itu, Soot, menyukainya.

“Seperti itu nona Mary.”

“Aku tahu kau juga. Kau Dickon, adik Martha, Dickon.”. Mereka pun bercakap-cakap. Mary pun mengatakan, “Aku telah mencuri sebuah taman. Mungkin itu sudah mati. Aku tak tahu.”

“Mungkin aku tahu.” Kata Dickon. Mary pun mengantarkan Dickon ke tempat itu. “Apakah kau janji tidak akan mengatakan hal ini?” tanya Mary kepada Dickon. “Aku janji.” Jawabnya.

“Tak seorangpun?”

“Tak satu jiwa.”

“Ini adalah taman yang rahasia.”

“Rahasia-rahasia aman bersamaku.”. Mary pun membuka pintu itu dan menunjukan semua yang ada di taman itu. Dickon tersenyum lebar sambil melihat-lihat di taman itu. “Taman ini tidak mati.” Ujar Dickon. Lalu Dickon menjelaskan mengapa taman itu tidak mati.
   

                       
       Aku sangat terkesan akan film ini. Aku sangat menyukai pemandangan di film itu. Apalagi taman itu. Hewan-hewan yang dipakai di film ini bukan animasi. Yang dipakai itu binatang-binatang asli. Mulai dari burung sampai anjing.





Wednesday, July 24, 2013

Teman

       Pada tanggal 28 Juni 2013, aku sedang berada di sekolah Morningstar Academy Jakarta (MSA). Gedung itu tetap seperti biasa, harum, dingin, dan keren. Di hari itulah aku akan menyanyi di depan orang yang banyak.
  
Saat latihan, aku berkenalan dengan salah satu pemain musik timku. “Halo namaku Andrew.” Ujarnya. “Namaku Pauline.” Jawabku. Sewaktu latihan, kita melatih lagu yang sudah lama sejak enam tahun yang lalu. Temanku, kak Leah, menanyakan ke kak Andrew, “kamu yang main lagu ini kan dulu?”. Kak Andrew pun mengangguk. Kenyataan itu membuatku kaget. Karena, lagu ini dipakai di konser “Rebirth” enam tahun yang lalu. Di antara keramaian orang-orang banyak, aku juga ikut menonton konser itu! Dengan kata lain, aku sudah pernah bertemu dengan orang itu sebelumnya!
     
     Di malam itu, saat aku menyanyi, konsernya berjalan dengan sangat lancar. Kita sangat gembira sewaktu sudah selesai karena konsernya sangat bagus dan lancar!!

    
     Sewaktu aku sudah pulang, ke Jogja, aku melihat CD-CD yang ada. Lalu, aku menemukan DVD Natal gereja MSI tahun 2005. Aku pun memutar CD itu ke TV-ku. Sewaktu aku menonton CD itu, aku melihat ada ka Andrew di situ! Bermain gitar untuk acara itu! Seingatku, aku juga berada di sana juga. Aku ingat setelah acara itu selesai, aku bermain-main di atas panggung itu!! Tidak salah lagi aku memang sudah pernah bertemu dengan kak Andrew delapan tahun yang lalu!! Tetapi parahnya baru berkenalan bulan lalu. 

Tuesday, July 23, 2013

Woo

Woo


Hi. My name is Woo. I’m an Ipod Nano, 5th generation. My color is metallic blue. I live in EMAX store, at 
Amplaz mall, highest floor, beside Cinema 21. I’m staying here until my new master is going to buy me.
When I’m waiting in my box, as usual, one of the client at EMAX takes me out from the box! He’s putting me on his desk. He show  my abilities to him, my new master. The client is like doing a monologue to him. It’s so long. After he’s done, my new master is buying me! Ahhh I’m so happy! I’m put into a transparent plastic. Then, we go home.

He’s driving a blue motorcycle. Blue helmet, blue shoes, and blue ipod! Hey I think he really loves blue. From Amplaz to our home, it takes ten minutes. Okay, we’re here. His room is filled with blue things! Almost everything is blue!

He puts me to his desk, and take me out from my box, and starting to synchronize me to his laptop. While synchronizing, someone greet me. “Hey there blue ipod!”. Oh it’s my master’s laptop. He’s an HP laptop. Black outside, metallic grey inside, and black keypad. “Hi there. What’s your name?” I ask to the laptop.

“I’m Siwan! But my real name is Max. Master changed my name because he’s a big fan of Kpop. Nice to meet you. And what’s your name?”

“My name is Woo. By the way, what’s our master’s name? “

“His full name is Yeo Jung Hyun. You can call him master Jung.”

“Okay then. What’s your full name?”

“Lee Si Wan. What’s yours?”

“Kim Woo Dae. Can I ask you everything about master Jung?”

“Of course! Why not? I have all of his data here.”

“Date of birth?”

“24th September, 1994”

“Favorite food?”

“Indomie.”

“Hobby?”

“Dancing, listening music, and playing music.”

“Oh so he’ll use me everyday!”

“Yep that’s right.”

“I just can’t wait!”

The next day, master Jung bring me to his school. But he just put me in his pocket with his earphone. But after the school’s over, he use me! He clicks music, playlist, Japanese and Korean Music,  and play EXO-K’s History. This song is upbeat. I really love it. Master Jung walks home from school. Before we go home, he stand still and look at the office boy next to his school. “This guy. Seriously. Driving your motor to a place that I don’t know and then go back. Maybe it only takes ten minutes. And then go back, and go again, and go back. Ck ck ck. Annoying guy.” Master Jung says that while he shakes his head from the left to right and left, right, left, right. After that, we walk home.

At that night, master Jung use me to play music before going to bed. He click the slow music and play it. While lying beside his head, I think. What if I’m a human. It must be interesting. When I’m sleeping, I have a dream.  A woman come to me and tell me that she will change me into a human but only for a week. At the morning, I’m aghast! Because the dream is true! I become a human!

 I get up from the bed before master Jung wake up and look to the mirror. Whoa I’m quite handsome. I ware a denim, shiny like my ipod screen. A blue jumper with a Macintosh symbol on its back. It’s blue of course. My shoes is blue with white linings. I have a black hair with blue streaks. I sit on the bed, waiting for master Jung to wake up. Master’s nose is twitching to the air. I smell something that smells like incense coming from my jumper. Suddenly master Jung jump off from his bed! I don’t know why. He is awestruck when he see me. He gingerly ask something to me. “I’m sorry, who are you?” Master asks.

“It’s me!” I answer.

“Why are you so handsome and you have Macintosh symbols at your jumper and shirt?”

“I’m your ipod!”

“WHAT?! Why are you a human?”

“Don’t know. Last night I dreamt that a woman came to me and said that she’ll turned me into a human but 
only for a week.”

“What’s your name?”

“I’m Woo. My full name is Kim Woo Dae.”

“Okay. “

“By the way master Jung-“

“How do you know my name?”

“ Siwan told me. He have all about your data there.” I point at the laptop, Siwan on his desk.

“Oh. What did you want to ask me?”

“Oh yes. Aren’t master Jung today must go to school?”

“Right! I forgot!”

Master Jung’s mom and father did not know that I turned into a human. That morning, I’m alone at home. I plan to cook food for master Jung and take it to school. But, I don’t know how to cook. But, I can search a cooking book in this house! After ten minutes searching, I finally found it. Okay, let’s see what I can cook. I’ll cook sandwich then. Beef, tomato, bread, lettuce, cheese, and mayonnaise. All clear. Now I have to give this to master Jung. I know the road.

At school, it’s break time. When I go to master’s class, many girls look at me. It feels kinda awkward. Master Jung looks amazed, seeing me here. “What are you doing here?!” Ask master Jung. ”Just delivering your little snack. I made it” I answer.

“How?”

“Just seeing the cooking book.”

“Magnificent.”

“This food is prominent for you, master.”

“I know I know so please go back home okay?”

“I understand that.”. I leave classroom. Still, everyone is still looking at me. I hear one of the girls says “oooohhh”.

When master is home, from school, he indignantly tell his problem with his best friend to me.  His best friend, Minho, cheated him at the Science test. It made master Jung so angry.

That night, I dream. The same woman that turned me into a human tell me to make peace between master Jung and Minho. If I can’t finish this task, I will be forever a human. If I’m a human forever, the people around me will be suspicious of me. I didn’t have a ID card, or anything else has that human has.
The second last day of my human being, master Jung is still angry to Minho. But he says to me that he still wants to be friends with him. This day is still a plight day for me. That day I go to the school, just for visiting. I come to Minho. “Minho, why did you act like that to master- I mean,  Jung?” I ask. “Who are you?” Minho ask to me.
“I’m Woo, Jung’s friend.”

“Why didn’t you go to school?”

“Eh.. Because…. this day is my holiday!”

“Where do you live?”

“In Jung’s house.”

“So you’re like the occupant there?”

“NO!”

“Whatever.”

“Just answer my question wouldn’t you?! You are prestigious for him! It is your priority to apologize!”

“Shut up.”

“Ask forgiveness from him.”

“Your assessment doesn’t suit me.”

Minho, his head is hard as a rock. I just want to glower my face to him every time I meet him. He is kinda malign. Now, master Jung wants to be friend with him again. He put his melancholy face to me. “ I just want to be friends with him again.” Says master Jung. At the lunch, I gather the two of them. Okay, I’ll initiate my action. “Minho, Jung wants to be friends with you again. Can you apologize to him?” I ask. “Hmphh! Nope.” Master Jung become distraught. “I’m sorry Minho, I ignored you.” Apologized master Jung to Minho.

“Why did you apologized to me?”

“Because you are my friend.”

“Apologize accepted. I’m sorry. I cheated on you because I didn’t study for the test.”

“It’s alright.”

Two of them become good friends again. I’ve done my task. The next day, the last day I become a human, it’s Sunday. Me and master Jung go jogging. And I become the predometer. “How many steps, Woo?” Asked master Jung to me. “1235 steps.” I answered. “Great.”. After jogging, we go back home.

That night, before sleeping, I tell master Jung. “Master, this is the last night I become a human. What do you request before I go?” I ask. “Nothing. I just want to say thank you for making a peace between me and Minho.” Answered master Jung to me while smiling. I smile too.

The next day, Monday, I’m back to an Ipod. That morning master Jung forget that I’ve become an Ipod. He just look at me. And rub my screen. But, he became amazed again! He jump of from his bed and fall down to the floor. I see someone standing, sitting on the chair, beside the desk. Metallic grey hair, black Jacket, white shirt, white denim, and black shoes. Handsome too. “Who are you?” Ask master Jung to that guy. “Yo, it’s me! Don’t ya remember me?” Answer that guy. Master Jung become confuse. But, when that guy turns his back, we see an HP symbol on the back of his jacket! “Siwan! You’re a human!” Says master Jung. Then Siwan hug master Jung, while laughing.

The End